BUNUH DIRI Isra' Mi'radj PasangIklanGratis Hijriyah vs Masehi Muhammad dan Anemogamy PasangIklanGratis Alam Semesta Terbatas PasangIklanGratis

Kenapa Orang Bisa Atheis?

Kenapa Orang Bisa Atheis? Kenapa orang ada yang tidak mempercayai adanya Tuhan? Sebelum menjawabnya, tak ada salahnya kita mencermati : sebenarnya seseorang menyatakan bahwa dirinya atheis adalah sebagai reaksi atas "ajakan" atau peryataan theistik yang mereka terima. (Atheis = not theis = menolak theis). Artinya kita hanya bisa mengetahui bahwa seseorang itu atheis hanya setelah dia "ditawari" / diberitahu ide theisme kemudian menolak ide tersebut. Dengan demikian kita bisa merumuskan penyebabnya, kenapa orang bisa atheis. Berikut penjelasannya
(ctt: atheisme yang kita bahas tidak mencakup kekafiran para penguasa atau pemilik status sosial yang menolak ide dari luar karena takut kehilangan kekuasaan dan status sosial. Atheisme di sini hanya meliputi penolakan agama yang muncul semata mata karena ketidak sesuaian dalil agama dengan logika manusia)

Karena atheisme merupakan reaksi maka kita bisa langsung menemukan bahwa penyebab utama munculnya atheisme adalah informasi salah yang mereka terima tentang theisme. Mereka melihat bahwa dalil dalil agama yang ada ternyata tidak masuk akal sehingga demi "kesehatan akal"nya mereka menolak ide theistik yang mereka dapati.

Minimal ada dua kesalahan yang terjadi:
1. Informasi salah  yang mereka terima tentang Agama
2. Praduga salah mengenai asal usul agama

Informasi Agama Yang Salah

Meskipun lintasan fikiran atheistik ini secara alamiah dialami setiap manusia, namun para perumus ide Atheisme mulai banyak bermunculan pada zaman pencerahan sebagai reaksi atas dominasi doktrin gereja abad pertengahan. Artinya para pemikir yang dijadikan rujukan para atheis jaman sekarang adalah orang orang yang secara filosofis memberontak terhadap doktrin agama yang "dipaksakan" oleh gereja. Buku agama yang diserang oleh para suhu atheis ini tak lain dan tak bukan adalah bible yang menjadi buku "suci" eropa pada abad pertengahan. Bagi mereka bible dan ajaran gereja adalah ilogical, bertentangan dengan akal sehat. Kekuasaan Romawi yang menggandeng gereja menjadi "penanggung jawab" utama atas penyebaran bible yang -menurut penelitian banyak sarjana kontemporer- ternyata banyak mengandung kesalahan yang tidak bisa dianggap remeh. Bible dinisbatkan pada Yesus, sehingga atheis bukan saja menolak bible yang ilogical, tetapi mereka juga akhirnya menolak Yesus karena dianggap mengajarkan sesuatu yang tak masuk akal. Padahal penelitian mutakhir tentang bible menemukan bahwa ternyata yang benar-benar merupakan perkataan yesus hanya tak lebih dari 10 % dari keseluruhan ayat bible. Apa artinnya ini semua? Artinya kalau atheis menyerang bible kemudian merasa menang, mereka sesungguhnya berhadapan dengan informasi yang salah.
Sebenarnya beberapa filsuf atheis terlihat mulai mencari alternatif informasi agama selain dari bible. Kurang afdol nya adalah bahwa informasi Quran belum sampai pada mereka saat itu. Tetapi belum terlambat, terutama bagi atheis masa kini. Pertanyaan atheis dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks atau yang dianggap paling filosofis, semua jawabannya terpampang dengan jelas di Quran.

(NB: sebenarnya jika ditemukan ajaran Yesus yang asli, atau ajaran Musa yang asli,..disana juga tertera semua jawaban semacam ini. kenyataannya yang kita dapati masih asli tidak ada tambahan maupun pengurangan hanyalah Quran)

Praduga Keliru Tentang Asal Agama

     Sebagian besar pemikiran atheistik didasarkan pada praduga bahwa semua agama merupakan hasil "rekayasa" manusia. Banyak ajaran agama memang menunjukkan bukti yang memperkuat dugaan mereka itu, namun mengarahkan praduga tersebut atas semua agama adalah kesalahan besar.
     Konfusianisme, Budhiisme dan Hiduisme misalnya, memperlihatkan bukti yang cukup signifikan bahwa ajarannya disusun oleh orang orang pertama pendiri ajaran ini. Bahkan ketika atheis mengatakan bahwa bible juga merupakan hasil rekayasa yang dilakukan oleh "para pemegang otoritas" pertama gereja, hal ini juga memiliki bukti yang cukup, -jika tak boleh dikatakan sebagai bukti yang tidak terbantah.- Bedanya adalah jika isme isme disusun sejak awal oleh otoritas utama, kalau rekayasa bible dilakukan oleh orang orang yang merebut otoritas dari tangan pertama (Yesus) kemudian melakukan tambah kurang atas ajaran aslinya.
     Tentu saja bukan hanya atheis yang tahu masalah ini. Semua peneliti akan dengan mudah menemukan "clue" dalam rekayasa bible ini, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa tak satupun injil yang ada dalam bible yang ditulis oleh murid Yesus.
     Matius, Markus, Lukas, Yohanes adalah orang orang yang tak pernah bertemu Yesus. Sedangkan Paulus, bukan saja tidak bertemu, bahkan dia adalah salah seorang musuh besar Yesus sejak awal "kehidupan" Yesus. Jadi praduga atheis yang keliru mengenai agama memang dipicu dengan adanya rekayasa. Sampai di sini pendapat bahwa agama merupakan hasil rekayasa manusia adalah benar.
     Tetapi bagaimana jika paradigma ini digunakan untuk melihat Islam dan Quran? Banyak atheis yang sudah terlanjur menvonis agama berdasar informasi "rekayasa" manusia itu, tidak percaya bahwa Quran mampu menjawab semua persoalan atheisme yang menguasai fikiran mereka, bahkan yang paling rumit sekalipun.


Paradigma Yang Disarankan










Related Post / Artikel Terkait:



16 komentar:

  1. orang yang dominan otak kanan menyukai cara berpikir theis. orang yang dominan otak kiri menyukai cara berpikir atheis. Theis ketika berbicara tentang asal usul kehidupan maka dimsukanlah unsur tuhan. orang atheis mengutamakan penelitian dan pengamatan dengan prinsip ilmiah (bukan keyakinan). hasilnya setiap kehidupan berasal dari kehidupan sebelumnya (tdak ada unsur tuhan ato dewa) Ketika menangani orang sakit theis mengutamakan doa, atheis mengutamakan perlakuan pada pasien secara medis. tuhan maha adil Ia beri kesempatan kepada dua cara berpikir di atas untuk megisi keseimbangan dunia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Analisa anda tidak berdasar. theis vs atheis bukan masalah otak kiri dan kanan

      Hapus
    2. Allah menciptakan menusia kemudian memberinya petunjuk Quran,...yang menerima disebut muslim,.. yang menolak disebut kafir.... Allah menyayangi orang yang menerima petunjukNya,.. dan Allah memperingatkan orang kafir yang menolak petunjuk Nya itu agar mau berfikir.

      Hapus
    3. gw setuju dengan pendapat slamet widodo, hanya orang yg pake otak kiri yg gabisa ngerti apa maksudnya mas slamet..

      kalo memang kalian yg theis benar2 theis, apakah sepatutnya kalian menamai atheis itu kafir??
      apakah Tuhan kalian berkehendak terhadap smua orang2 kafir??

      knp setiap org yg taat beribadah ketika sedang sial dibilangnya itu sebuah ujian??

      tapi kalo atheis sedang sial selalu dibilang azab??

      kejam sekali orang2 theis itu yah??

      kata2nya sangat menyakitkan,. :)

      weitz jgn terpancing emosi dengan saya menulis itu ya? :)

      tapi kita ambil jalan yg benarnya saja, intinya semua dari diri masing2, ajaran orang tuanya, guru2, pergaulan sekitar, yg merubah gaya hidup serta prinsip seseorang :)

      ga jelek koq dengan adanya atheis, kalian yg beragama akan smakin beragama,. ya toh?

      Hapus
    4. Hackshield, kafir adalah orang yang tahu islam dan menolaknya.

      Belom ada bukti manusia ada yang dominan otak kiri dan otak kanan. Silahkan cari sendiri di google :)

      Hapus
    5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Saya menjadi ateis karena teis tidak bisa membuktikan tuhan itu ada. Itu saja

    BalasHapus
  3. Bagus tidak beragama dari pada beragama ,..
    mengapa ?
    karna banyak yang sok tau dan mengatakan mereka benar ~
    padahal menyesatkan ,
    wkwkw bego sumpah njing

    BalasHapus
  4. Bila theis bisa membuktikan keberadaan tuhan, maka bisa dipastikan tdk akan ada atheis diseluruh dunia. Seluruh manusia akan mnyembah tuhannya dlm satu agama yg sama.
    Percaya adanya tuhan hnya bisa ditempuh dg KEIMANAN. Coba berfikir dan renungkanlah, sblum kita lahir bukankah kita tidak ada, kita mati, lalu dimanakah kita saat itu.
    Begitu juga saat kita menemui kematian sebagai manusia, kita dikubur. Kemanakah kita. Apakah semua itu sdh berakhir. Saat mnjdi manusia skrg, akal kita terbatas utk mngetahui tabir tsb. Namun setidaknya kita bisa menarik kesimpulan dari hal-hal Tadi pasti itu semua ada yg mengatur.

    BalasHapus
  5. saya pernah mendengar istilah..
    sama halnya jika kita percaya pada seorang ilmuan atau profesor karena pengetahuan dan hasil pemikirannya, apakah kita tidak harus membelah kepalanya dan melihat otaknya untuk percaya pada hasil keilmuannya??
    ya begitulah agama... hakikatnya pada keyakinan anda, tanpa harus melihat wujud "otak" yang menghasilkan seluruh alam dan isinya.
    Itu yang membedakan kita dengan mahluk lain berfikir, mencari kebenaran, karena ada lo agama yang semua kebaikan dan manfaat ajarannya bisa dibuktikan secara ilmiah dan logiiiiissss

    BalasHapus
  6. Bila anda mengatakan bahwa dunia ni tdk ad Tuannya?,llu bagaimana kt umat manusia yg sehari" bs hdp dengan tanpa mendpatkan bantuan napas dr org lain,tapi bs hdp? Ni contoh konkret..lom jg bayi yg gede,tpi bs keluar dr rahim ibu nya yg kecil tuh. Ayo cba anda jwb..

    BalasHapus
  7. agama itu masalah kepercayaan, jadi orang ateis sama yg teis klu berdebat tentang tuhan ya g ada ujungnya. kan di islam sendiri udah dikasih tahu,ada firman Allah yang berbunyi jika sesungguhnya makhlukku bertanya tentang keberadaan, katakanlah sesungguhnya aku dekat.
    dan tentang agamaku yang aku pelajari, jika kita berpikir jauh tentang tuhan niscaya akal kita tak akan sanggup untuk memikirkannnya. ini perkara besar. dan jika ada yang menyangkal tentang al quran, al quran bukan rekayasa manusia, itu murni kalam Allah, dan makhluk yang beruntung menerima wahyu pertama adalah muhammad saw.

    BalasHapus
  8. Kaum ateis lebih sering beranggapan jika "kita di lahirkan tanpa bisa milih (dari rahim orng kaya, miskin, agama A, B, C, dsb), tapi saat kita hidup dewasa kita di suruh milih tentang kepercayaan (syurga ato neraka),,
    Jadi kaum ateis bukan karena mereka percaya hal ilmiah,, karna ketidak puasan terhadap ideologi teis..

    Lalu bagaimana dengan tentang ini semua yg sudah tercipta,, tak mungkin ini terjadi kebetulan.. mmg kita terbatas ruang dan waktu.. tapi pikirkanlah hal itu.. ini yang di percayai kaum teis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada dasarnya manusia diberi akal untuk berfikir, jangan lah jauh jauh tentang opsi2 hidup pilihan karena surga neraka hanyalah Dia yang tahu, kita hanya berusaha yang terbaik untuk mendapatkan ridlo nya dan belas kasihnya..

      Mungkin statement berikut bisa diberikan untuk didiskusikan oleh kaum ateis, apakah mereka benar benar percaya bahwa semua ini (kehidupan isi dan semua muanya) hanyalah kebetulan? atau, begini saja, apakah mereka benar benar percaya dengan keparcayaan yang mutlak bahwa hidup didunia ini tidak berarti apa apa? Runtutlah dengan logika sejauh mana ia bisa sampai ke tahap semua ini (alam semesta) berasal? Salam.

      (Saya berfikir maka saya ada, saya pun berfikir tentang pertanyaan pertanyaan di atas dan alhamdulillah saya semakin yakin bahwa seperti diterangkan di alquran, kita semua diciptakan oleh sang pencipta, saya banyak melihat konspirasi yang ada di teori darwin ataupun teori filsafat barat yang mengatakan ilmu pengetahuan sebagai satu satunya realita,, maka kembali dirujukan di atas, karena pada dasarnya atheisme merujuk pada gerakan non-align terhadap gereja pada masanya, sehingga premise dapat muncul bahwa jika alquran sampai pada masa itu, mungkin atheisme dapat terbendung karenanya - mengasumsikan bahwa atheisme hanyalah sebuah gejolak naluri manusia untuk menolak ajaran yang sudah lama keliru, yakni bible yang direvisi berkali kali, namun tidak pada alquran yang sudh dijamin keoriginalitasnya sampai pada waktunya nanti)

      Coba consult ke al-quran mas, semuanya ada di sana.. :) Salam mas..

      Hapus
  9. .
    APAKAH ANDA BANGGA MENJADI SEORANG ATEIS...??

    Coba renungkan ungkapan sederhana berikut: Angggap saja anda seorang yang beragama,lalu anda bersedekah,beribadah,beramal saleh dll,lalu anda mati,ternyata eh ternyata,akhirat tidak ada,maka setidaknya anda akan dikenang sebagai orang yang baik.
    TAPI SEBALIKNYA,Anda seorang ateis,lalu mati,ternyata akhirat benar benar ada,maka resiko yang harus anda jalani andalah siksa neraka yang kejam,sadis,panas membakar,dan tidak berkesudahan.
    Gimana,Apakah anda sudah siap dengan resiko yang sangat riskan..?? Bila ya maka tetaplah anda menjadi seorang ateis sampai mati,lalu tunggu siksa pedihnya,
    Kalau aku pribadi sih NAUDZUBILLAH MIN DZALIK...!!!

    BalasHapus
  10. Saya bukan tidak percaya pada Tuhan, Saya cuman tidak percaya pada agama, atheis lebih mulia dia berbuat baik karena memang itu yang pantas dilakukan bukan karena embel2 surga dan neraka seperti konsep monotheis, lagian kalo mau ngikut agama, agama yg mana ? Ada ribuan agama didunia bukankah salah memilih agama sama dengan kafir dan punya konswekwensi yang sama dg atheis, kristen akan menganggap islam sebagai kafir begitupula sebaliknya , dari jaman dewa phraoh,zoroaster,yahudi,kristen,islam dsb …

    BalasHapus

Artikel Ini Bagus (Good) atau Jelek (Bad)? Please Comment here