BUNUH DIRI Isra' Mi'radj PasangIklanGratis Hijriyah vs Masehi Muhammad dan Anemogamy PasangIklanGratis Alam Semesta Terbatas PasangIklanGratis

Bisakah Islam dan Kristen Disatukan?

masjid dan gereja
Bisakah Islam dan Kristen Disatukan? Saya langsung memotong,"Lho lho, nanti dulu, maksudnya apa nih?" Kalau ajarannya dicampur pasti tidak bisa. Kalau muslim nya ama kristiani nya disatukan bisa nggak? Nah kalau yang ini kita bisa jawab,"Bergantung orangnya, ada yang bisa, ada pula yang tidak". Biasanya saya berkelakar,"Mbok yo gak usah ngoyoworo mas,...bingung menyatukan Islam dan Kristen,..lha menyatukan beberapa kelompok kaum muslimin sendiri ae angel gak keruan" Namun begitu kenyataan di lapangan bisa sangat berbeda. Pada kasus tertentu menyatukan pandangan seorang muslim dengan seorang kristiani bisa jauh lebih mudah dibanding menyatukan pandangan seorang Nahdliyin dengan Persis. Benarkah? Bagaimana penjelasannya?

Menyatukan Ajaran Islam dan Kristen

Kalau yang dimaksud menyatukan adalah mencampurkan  Bible dengan Quran tentu saja sangat riskan. Beberapa orang mengusung dialektika dalam masalah ini. Bible memerankan thesa, sedangkan Quran muncul sebagai antithesa, kemudian menurut teori itu, akan muncul perimbangan sinthesa, setelah terjadi beberapa pertikaian ideologis. Tentu saja teori abal abal (pseudo ilmiah) semacam ini tidak berlaku, dan jika dipaksakan yang terjadi adalah kesepakatan-kesepakatan semu sebagaimana kompromi politik yang dilakukan para wakil rakyat dan penguasa akhir akhir ini.

Penjelasan teori dialektika untuk masalah ini bisa dipahami sbb: Jika ada kebenaran kemudian muncul lawan ideologis dari kebenaran itu (baca: kesesatan) maka setelah terjadi beberapa pertikaian ideologis antara keduanya, pada saatnya akan terjadi perimbangan ideologi yang memiliki nilai setengah kebenaran dan setengah kesesatan. Kebenaran setengah setengah ini selanjutnya dianggap sebagai kebenaran baru.

Beberapa pakar memberikan istilah sinkretisme untuk ajaran gabungan semacam ini. (Konon kabarnya kaum Singh merupakan contoh sinkretisme antara Hindu dan Islam).

Mencari Kebenaran dengan Hati

Ajaran Islam dan Kristen tentu bisa dicari titik temunya, jika memang kita mau mencari kebenaran dengan hati. Sejujurnya kita bisa bertanya,"Benarkah yang kita cari adalah kebenaran? atau sekedar kemenangan ideologi?"
Jika dua orang berdebat. Yang satu mengatakan bahwa 4+3=7, yang kedua mengatakan bahwa 4+3=9, tentu saja aneh kalau orang kedua ngotot dalam kesalahan. 

Jika kedua orang itu sungguh ingin mendapatkan mana yang benar, tentu orang kedua akan dengan mudah mengatakan,"Ya pendapat anda benar,dan saya salah. Maka mulai saat ini saya tinggalkan keyakinan saya yang salah itu. dan mulai saat ini pulah pendapat anda adalah pendapat saya juga!"

Sebaliknya jika yang mereka tuju adalah kemenangan ideologi, maka yang terjadi adalah debat tak kunjung selesai. Pada titik tertentu bahkan terlihat sangat aneh ketika orang kedua memberikan data bahwa ada ribuan pakar matematika yang punya keyakinan sama dengan dia, 4+3=9. Pada akhir debat pun diadakan voting untuk menentukan 'kebenaran' itu. Tentu saja karena pendukung yang lebih banyak, orang kedua memenangkan debat. Dan pernyataan 4+3=9 dinobatkan sebagai kebenaran yang harus diyakini.

Tentu saja yang kita bahas mengenai titik temu Islam dan Kristen bukan yeng seperti ini. Kita harus bersandar pada kejujuran hati. Jika memang ingin kebenaran maka ayolah kita lakukan. Tetapi kalau menginginkan kemenangan ideologis, akan terlalu banyak waktu terbuang.

Jikasungguh hanya kebenaran yang kita tuju maka sebenarnya sangat mudah mencari titik temu Islam Kristen. Bahkan masalah perselisihan intern umat Islam pun dengan amat mudah diakurkan. Dalam beberapa kasus tak sampai lebih dari satu jam kita bisa melihat bahwa tidak ada yang menghalangi kita untuk menjadi satu pendapat yang bisa diterima denganpenuh keyakinan.

Karena sebenarnya kebenaran itu hanya ada satu,... tapi cara memahami kebenaran inilah yang bermacam macam menurut kelengkapan informasi yang diterima oleh masing masing orang.







Related Post / Artikel Terkait:



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Ini Bagus (Good) atau Jelek (Bad)? Please Comment here