PasangIklanGratis buat blog jadi MESIN UANG PasangIklanGratis PASIF INCOME 6JT/BLN TRIK BISNIS TOP buat blog jadi MESIN UANG TRIK BISNIS TOP TRIK BISNIS TOP

Kiat Memilih Jalan Hidup Yang Benar


Beberapa orang merasakan kebingungan memilih jalan hidup. Kiat, pemeo, jargon, dan kata kata bijak bertebaran, sementara beraneka ragam agama seperti berlomba menawarkan konsep hidup menurut ajaran masing masing. Islam Kristen Hindu Budha, Kong hu chu , aliran kepercayaan dsb, masing masing mengatakan bahwa konsep kelompok merekalah yang benar. Lalu bagaimana cara paling mudah untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah?
Ada Tiga Komponen Penting agar manusia sampai kepada kebenaran yang sesungguhnya. Bila diumpamakan kebenaran sebagai buah apel yang tersembunyi dalam sebuah gudang gelap yang berisi berbagai macam barang, maka ada tiga hal penting yang diperlukan agar seseorang bisa menemukan buah apel dengan mudah:
1.       Mata (penglihatan)
2.       Lampu (penerangan)
3.       Peta (Penunjuk Jalan) menuju tempat penyimpanan apel

1. Mata = Akal = Hati = Satu dari Tiga Komponen Utama untuk Mencapai Kebenaran
Fungsi mata teramat penting dalam skenario pencarian buah apel di dalam gudang gelap. Meskipun ada peta petunjuk mengenai letak apel, ditambah dengan lampu senter yang terang benderang, semuanya menjadi tidak berarti jika kita tidak memiliki mata atau mata kita sakit atau mata kita tidak berfungsi alias buta. Dalam mencari kebenaran, manusia dilengkapi dengan akal (akal=hati) yang berfungsi seperti mata dalam proses pencarian apel dalam gudang. Akal/ hati merupakan perangkat penting yang menempel dalam diri manusia, yang menjadikan manusia sangat berbeda dari binatang. Jika manusia mau mempergunakan akal/hatinya dengan benar maka dengan mudah dia mampu membedakan yang benar dari yang salah, yang baik dari yang buruk. Namun jika seseorang tidak mau mempergunakan akalnya dengan baik maka kondisinya tidak berbeda dengan orang buta atau orang yang tidak menfungsikan matanya. Meskipun diterangi lampu dan diberi petunjuk dia tetap saja tidak bisa melihat, tidak bisa membedakan buah apel dari barang barang lain yang ada di gudang.
"Tuhan berfirman,"mereka itu mempunyai hati tapi tidak dipergunakan untuk meng'akal'i (memahami) ....maka tidaklah mereka akan kembali ke jalan yang benar"

ctt: banyak orang salah paham dengan mengatakan bahwa hati tidak sama dengan akal. Mirip dengan anatomi intelijensia manusia yang dibagi menjadi IQ EQ san SQ. mereka menisbatkan akal=IQ sedangkan hati=EQ dan SQ. Sebagian lain yang lebih cerdas membaginya dengan Rational Intelegent dan emotional Intellegent. Namun hal demikian ini salah besar, karena hati (qalbun) dan akal (aql) adalah sesuatu yang sama. Qalbu merupakan kata benda, sedangkan Aql merupakan mekanisme (aktifitas) dari Qalbu. perhatikan ayat Quran "wa hum quluubun la ya'qiluuna biha" artinya " dan mereka memiliki qolbun tapi tidak meng'aqali" (memahami masalah) dengan qolbun tersebut" (mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami pelajaran / ayat ayat Allah)


2. Lampu = Penerangan = Kitab Dari Tuhan = Kitab Suci Yang Menerangi = Yang Menjelaskan
Orang yang mempergunakan matanya dengan baik tetap saja akan mengalami kesulitan menemukan apel dalam gudang gelap yang dipenuhi bermacam barang. Cahaya lampu atau senter menjadi sangat penting untuk menerangi area gudang, lorong lorong gudang sehingga kita bisa melangkahkan kaki melalui lorong yang tepat tanpa harus menubruk barang atau menginjak paku. analog dengan lampu senter dalam pencarian apel digudang, manusia memerlukan sebuah kitab yang menerangi "kitabin munir" yang dengan kitab itu menjadi jelas semua permasalahan, menjadi lebih jelas mana yang benar dan yang salah, sehingga kita bisa lebih mantab dalam bergerak menemukan kebenaran.
Mengenai kitab yang menerangi ini tentu saja ada perbedaan diantara berbagai kelompok. Kelompok Islam mengatakan  Quran yang benar, kelompok kristen mengatakan Bible yang benar, begitu juga kelompok yang lain. masing masing meyakini kitabnya sendiri sendiri. Lalu bagaimana cara mengetahui bahwa kitab yang kita percayai sekarang ini benar atau tidak? Paradigma apa yang kita pakai dalam menilai kebenaran sebuah buku? Kita bisa menilai sebuah buku dari dua sisi yaitu secara internal dengan menelaah konsistensi logika dari isi buku itu sendiri, dan secara eksternal kita bisa menelusuri sejarah penulisan buku tersebut. Dalam penelitian keaslian sebuah hadits dikenal dengan istilah matan (isi hadits) dan sanad (orang orang yang menuturkan hadits tersebut.
Tidaklah mungkin sebuah kebenaran mengandung kontradiksi ataau inkonsistensi di dalamnya. Premis ini akan dengan mudah membawa kita untuk mengenali baik Quran, bible, wedha atau semua kitab yang lain, apakah kitab itu merupakan pedoman hidup yang benar atau bukan. banyak orang mengatakan bahwa dalam mempelajari kitab suci kita harus mengesampingkan logika (akal). Tentu saja hal ini salah besar, justru Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan hati/akal nya adalah untuk bisa memahami kitab yang diturunkan Tuhan melalui para nabi.
Sebagai informasi saja bahwa diantara beberapa kitab suci yang disebut di atas, dari segi isinya hanyalah Quran yang tak mengandung sedikitpun kontradiksi atau inkonsistensi di dalamnya. Sebagaimana difirmankan Allah,"Dan sekiranya Quran itu datang bukan dari sisi Allah tentu lah kalian dapati banyak pertentangan di dalamnya"
Mengenai tinjauan eksternal dengan penyelidikan sejarah penulisan Kitab, ternyata juga, Quran merupakan kitab yang otentisitasnya paling bisa diandalkan. Quran sudah dibukukan secara lengkap pada masa Abu Bakar, dimana pada saat itu keempat sahabat terbaik Muhammad masih hidup. Dan Kaum Muslimin berada dalam puncak dominasi politik sosial ekonomi dan budaya, sehingga tidak ada intervensi musuh islam ke dalam proses pembukuan Quran. Hal ini berbeda dengan sejarah penulisan hadits yang mulai dilakukan penelitian dan kodifikasi di masa Bukhari Muslim (200 th setelah Hijrah). Pada saat itu para sahabat sudah tiada, sementara permasalahan umat yang bernuansa politis merebak ke seluruh penjuru. orang munafik makin banyak dan kesempatan musuh Islam untuk menebar fitnah makin terbuka. Tak heran jika jumlah hadits yang dipalsukan jumlahnya mencapai puluhan atau ratusan ribu.
Yang bernasib mirip dengan sejarah penulisan hadits ini adalah kasus penulisan bibel. isi bibel bercampur aduk antara taurat, injil, perkataan isa, perkataan orang orang, hadits hadits palsu, cerita khayalan, dongeng paulus, kebohongan paulus, kontradiksi paulus, yang semuanya dibukukan menjadi satu bible. Itu sebabnya kalau diteliti lebih seksama teramat banyak kontradiksi, kenjanggalan, bahkan ayat yang secara akala sehat justru menentang Tuhan, yang terdapat di dalam bibel. Beberapa akademisi kristen telah berupaya memisahkan ajaran asli Yesus dalam bible, dan kalau boleh jujur, ajarannya sama persis dengan yang diajarkan dalam Quran, yaitu menyembah hanya kepada Allah Tuhan yang menciptakan seluruh alam.
Sampai di sini kalau kita memfungsikan hati kita dengan baik kemudian membaca Quran dengan baik pula, lalu memahami artinya dengan seksama, tentu secara akal kita akan pasti sampai pada kebenaran. dengan mudah kita bisa memahamai mana yang benar  dan mana yang salah. Akan tetapi pemahaman semacam ini pun bisa jadi sia sia, jika hati kita tidak terbuka untuk menerima dan melaksanakan kebenaran yang telah kita pahami tersebut. Jadi masih ada satu lagi komponen penting yang akan membawa kita pada kebenaran hakiki. yaitu Hidayah Allah



3. Peta petunjuk = Hidayah = Petunjuk Allah
Seorang orientalis mempelajari Quran dengan segenap kemampuan akalnya, tetapi tetap saja dia tidak berhasil menjadi seorang muslim yang benar, kenapa? Permasalahannya tinggal satu saja yaitu Hidayah (petunjuk). Banyak orang menyangka bahwa petunjuk Allah ini disebar secara acak. siapa yang dapet ya dapet, yang tidak ya udah. ada orang baik yang tak dapat ada juga orang berperangai buruk tapi malah dapet. Benarkah demikian? Tentu saja tidak. Kuncinya ada pada cara memahami ayat berikut," Allah memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah membiarkan sesat siapa saja yang Dia kehendaki"
"Yang dikehendaki" merupakan sebuah kriteria bukan individu. Artinya manusia boleh memilih untuk menjadi yang dikehendaki Allah atau tidak. Salah satu kriteria yang banyak disebut Quran mengenai orang yang dikehendaki Allah mendapat petunjuk adalah, "mereka itu suka mendengar perkataan lalu mengikuti yang terbaik daripadanya" 

Related Post / Artikel Terkait:



2 komentar:

Artikel Ini Bagus (Good) atau Jelek (Bad)? Please Comment here