BUNUH DIRI Isra' Mi'radj PasangIklanGratis Hijriyah vs Masehi Muhammad dan Anemogamy PasangIklanGratis Alam Semesta Terbatas PasangIklanGratis

Maridjan Mbalelo (Ndableg) Tapi Media Malah Menjadikannya Idola

"Dulu tahun 2006 saya suruh turun dia nggak mau, mbalelo, tapi malah dijadikan idola oleh media," kata Sultan HB X (Raja Jawa saat ini) di Kantor Gubernur Kepatihan, Yogyakarta, Jumat 29 Oktober 2010.

Lalu apa sebenarnya yang membuat Mbah Maridjan tidak mau ikut mengungsi? Berikut adalah wawancara imajiner bersama Sultan HB IX (ayah dari raja jawa sekarang)

Q: Mbah Maridjan meninggal diterjang wedhus gembel karena tidak mau turun bersama warga yang lain. Katanya anda yang nitah (menyuruh) beliau untuk setia menjaga merapi?
A:Lhoh, jaga merapi ya jaga,...tapi kalau membahayakan ya harus menghindar menyelamatkan diri

Q: Tapi kalau lari dari amukan merapi, bukankah itu sama saja dengan seorang prajurit yang lari dari peperangan karena takut mati pak Sultan?

A: Siapa bilang ini peperangan? Kalau perang kan tugas prajurit itu menghadang laju musuh atau menaklukkannya,.... Lha kalau Merapi apanya yang mau dihadang? Atau dia mau menaklukkan merapi? Pakai apa? Sedangkan seluruh prajurit jawa saja takkan sanggup menjinakkan merapi meskipun dibantu seluruh rakyat indonesia ditambah semua ahli seluruh dunia dibekali alat paling canggih yang pernah ada. Apalagi Mbah Maridjan sendirian. Apakah kalau dia tetap ada disitu kemudian Merapi tidak jadi meletus?

Q:Tapi kan memang dia ditugaskan untuk menjaga merapi agar tidak mendatangkan mudharat bagi warga dan bangsa ini?
ANah ini dia yang disebut salah kaprah. Memangnya dia itu malaikat? Bisa ngatur kapan merapi meletus? bisa mengarahkan wedhus gembel biar tak melukai warga? Anda lihat sendiri bukan, dia sendiri diterjang wedhus gembel tanpa bisa menolaknya.

Q: Tapi Pak Sultan, bukankan ditahun 2006 dia berhasil membuat amukan merapi mereda dengan caranya sendiri malah naik menuju kawah disaat semua orang turun menyelamatkan diri? bukankah ini membuktikan bahwa Simbah punya komunikasi khusus dengan merapi sehingga mampu membujuk merapi untuk tidak erupsi?
A: Lha ini lebih ngawur lagi, seakan akan merapi adalah makhluk yang bisa diajak tawar menawar,..ini mitos dan kepercayaan menyesatkan. Merapi itu punya'nya Gusti Allah. Kalau Gusti Allah ngendiko(bilang) 'meletus' ya meletus,...tak seorangpun bisa nawar kecuali dia mendekat dan meminta sama Gusti Allah,...tapi kan harus berkaca kita ini siapa? Nabi juga bukan? Utusan Allah apalagi? Kita ini manusia biasa, jadi jangan ada yang ngaku punya mu'jizat karena mu'jizat dikaruniakan hanya untuk Nabi dan Utusannya Gusti Allah.

Q: Tapi tindakan Mbah Maridjan 2006 itu sangat fenomenal, bahkan kejadian itu melambungkan nama Simbah?
A: Mengenai peristiwa tahun 2006 itu kan cuma kebetulan saja, lalu media mengkaitkannya dengan kepergian Mbah Maridjan menuju kawah, seakan akan karena usaha mbah Maridjan lalu merapi mereda. Padahal tidak ada hubungannya. Andai saja saat itu dia tidak pergi ke kawah apakah merapi jadi meletus? Tidak! Merapi tidak jadi meletus karena memang Gusti Allah belum memerintahkan merapi untuk meletus.

Q: Tapi kan bisa saja, mungkin berkat doa Simbah di dekat kawah, lalu Gusti Allah tidak jadi memerintahkan Merapi untuk meletus?
A: Memangnya Gusti Allah bisa diatur sama Mbah Maridjan?  Kan tadi sudah saya bilang kita semua ini termasuk Mbah Maridjan hanyalah manusia biasa, bukan Nabi apalagi Utusan Gusti Allah. Mulakno ono wewaler (nasihat) "Ojo rumongso biso,..nanging kudu biso rumongso" Maksudnya jangan rumongso biso, jangan merasa bisa ngatur merapi, jangan merasa bisa negosiasi sama merapi, jangan merasa bisa negosiasi sama Gusti Allah (sang pemilik merapi),... tapi hendaknya kita biso rumongso, bisa merasa,.. bisa menyadari bahwa kita ini bukan siapa siapa dihadapan Gusti Allah.

Q: Jadi tugas juru kunci merapi itu bukan menjaga merapi agar tidak meletus?
A: He he ya jelas bukan, kan sudah saya jelaskan

Q: Juru kunci juga berkewajiban melindungi warga agar selamat dari amukan merapi?
A: Nah kalau ini iya,... tapi bukan seperti seorang prajurit melindungi warganya dari panah musuh dengan menggunakan tameng, karena letusan gunung tidak bisa dibendung. Cara melindungi warga ya dengan mencari tanda awal bahaya merapi sedini mungkin kemudian memberikan penjelasan kepada warga untuk melakukan upaya penyelamatan jika sewaktu waktu merapi meletus.

Q: Jadi seperti tugas pengamat gunung sekaligus juru penerangan ke masyarakat ya pak Sultan?
A: Betul, persis seperti itu.

Q: Jadi Simbah harusnya aktif menyuruh warga untuk mengungsi ya Pak Sultan?
A: Betul, dan itu sudah dia lakukan

Q: Tapi kemudian masih ada beberapa warga (kabarnya sampai lebih 20 orang) yang tetap tinggal di situ karena Simbah juga belum turun
A: Ini patut disayangkan. Harusnya dia ngasih tau untuk turun itu ya sekalian ngasih contoh. Rakyat itu mengikuti pemimpin lebih mencontoh kelakuannya ketimbang mendengar omongannya. Kalau dia nyuruh turun sambil dia sendiri juga turun bersama warga, saya rasa tak akan jatuh korban

Q: Banyak orang sudah menyuruh Simbah turun tapi dengan alasan setia pada perintah anda dia tidak mau turun bahkan tahun 2006 ketika HBIX putra anda menyuruhnya turun, Simbah malah naik ke kawah?
A: Lha ya itu.,..... Perintah saya itu kan dulu merapi sedang tidak bergejolak. Jangan jangan kalau kemarin sebelum meletus saya bikin perintah turun dia tetap tak mau turun dengan alasan setia pada perintah saya yang dulu, ini kan nggak benar. Anak saya bikin perintah kan juga tidak sembarang memerintah? Itu sebabnya anak saya menyebut dia mbalelo. Apa itu mbalelo? yaitu tidak tidak mau nurut perintah. Kalau jaman dulu yang mbalelo begini jarus dipaksa, karena kalau tidak bakal menjadi preseden buruk bagi efektifitas pemerintahan. Nanti makin banyak warga yang berani menolak aturan pemerintah, iya kalau pendapatnya benar dan tidak membahayakan lha kalau seperti kasus ini kan sangat bahaya. Aturan pemerintah itu wajib dituruti kecuali kalau aturan itu salah atau membahayakan keselamatan umum. Lha ini anjuran untuk menyelamatkan diri, untuk mengajak warga agar selamat,...anjuran begini salahnya dimana kok bisa tidak didengar sama dia?

Q: Kalau anda ada saat merapi akan meletus apakah anda akan memerintahkan Mbah Maridjan untuk turun sebagaimana dilakukan Sultan yang sekarang?
A: Iya jelas,.. saya tidak akan membiarkan Mbah Marijan bawahan saya mati sia sia. warga masih membutuhkan karya karya dia

Q: Jadi Mbah Maridjan ini tidak patut dicontoh ya Pak Sultan?
A: Kalau masalah Mbalelo, Ndableg dan tidak memberi contoh kepada warga untuk mengungsi,.. itu saya setuju JANGAN DICONTOH!!!. Tapi kalau masalah kesederhanaan boleh lah,...

Q: Sebelum meletus kemarin Mbah Maridjan sempat mengutarakan alasan tidak mau turun. Kata beliau,"Kalau saya pergi lalu siapa yang ngurusin daerah sini?"
A: Lha ya,...sekarang saya balik bertanya,.. kalau Mbah Maridjan mati emang masih bisa ngurusi daerah ini? Justru Mbah Maridjan mesti mengungsi agar tetep bisa ngurusi tempat itu. jadi ngungsi dulu, nanti kalu udah aman balik lagi terus jalankan tugas lagi. Lha kalau sekarang,... dia mati malah gak bisa balik lagi to?


Q: Jadi memang Mbah Maridjan menafsirkan perintah secara salah ya Pak Sultan
A: Lebih tepatnya salah kaprah, artinya salah yang sudah terlanjur dianggap sebagai kebenaran. Tapi tak perlu kita mengorek kesalahan, karena kalu mau jujur kita juga salah ketika membiarkan pendirian salah itu tetap berlangsung. pada tingkat tertentu harusnya kita berani memaksa dia untuk keluar meninggalkan merapi dengan pertimbangan keselamatan nyawa dia sendiri dan beberapa warga yang mengikutinya

Q: Lantas apa sebenarnya fungsi dari juru kunci merapi?
A: Jadi begini, tiap tahun kan ada tradisi kraton untuk memperingati jumenengan (pelantikan) raja. Nah peringatannya diadakan di lereng merapi ini. Tugas utama juru kunci adalah mengurus dan memimpin upacara atau peringatan itu. Jadi yang diurus lebih ke masalah keberlangsungan tradisi kraton itu, bukannya jaga merapi biar tidak meletus, hanya saja karena acaranya dilakukan di merapi maka dia disebut sebagai juru kunci merapi. Lha merapi sendiri kan tidak ada kucinya,.. siapa saja mau masuk ke sana ya masuk aja wong pintunya juga tidak ada.


Q: Sebelum kita akhiri barangkali ada pesan yang mau disampaikan ?
A: Kepada Rakyat Jogya terutama yang sedang dilanda bencana bersabarlah karena Gusti Allah suka sama orang orang sabar. Bagi yang anggota keluarganya meninggal marilah kita doakan agar yang meninggal diberi ampunan sama Gusti Allah dihapuskan kesalahannya dan diterima taubat dan amalnya. Mengenai Mbah Maridjan saya berharap: kesederhanaannya silakan dicontoh sedangkan sikap mbalelo, setia bukan pada tempatnya, tidak mau ikut anjuran petugas evakuasi, TIDAK PERLU DITIRU. Kepada media hendaklah sewajarnya saja dalam memandang Mbah Maridjan,.. karena kesetiaan yang dia perlihatkan itu salah dan mencelakakan diri sertamempengaruhi orang lain maka pihak media hendaknya juga menjelaskan bahwa sikap demikian itu tidak benar, jangan malah disebut sebagai orang yang teguh pendirian sampai mati.
Kalau pendiriannya itu sesuai dengan kebenaran memang bagus, tapi kalau pendiriannya adalah pendirian yang salah dan membahayakan diri dan mencontohi yang tidak baik buat warga ya tentu saja jangan dipegang. Berubah pendirian itu hal yang wajar karena bisa jadi kita baru tahu bahwa pendirian kita salah justru setelah berlalu. Yang jelas kalau ada pendapat yang lebih baik atau lebih mendekati kebenaran dan mengandung banyak kemaslahatan warga maka tidak ada alasan kecuali HARUS MENERIMA PENDAPAT  itu meski bertentangan dengan pendirian kita sebelumnya. Ini sangat perlu untuk pendidikan masyarakat. Kalau rakyat mau meniru Mbah Maridjan ayolah kita arahkan sifat mana yang boleh ditiru dan mana yang harus dihindari. Dan tolong diberitahukan bahwa tugas Mbah Maridjan bukan penjaga merapi agar tidak meletus, melainkan hanya bertugas menyelenggarakan tradisi kraton di daerah lereng merapi. Jadi sebenarnya tidak ada kewajiban dia untuk bertahan di situ,..kan sedang ada bencana? mana mungkin lagi repot bencana malah bikin upacara tradisi.

(wawancara ini hanyalah rekaan, dibuat percakapan dengan sedapat mungkin merujuk pada cara berfikir standar agar semua bisa belajar dan berani mengatakan yang benar adalah benar, dan yang mitos adalah mitos. sudah saatnya masyarakat mendapatkan pengertian yang utuh. Dengan tidak mengurangi rasa hormat buat Mbah Maridjan, tetapi kesalahan berfikir yang dia lakukan harus diberitahukan agar orang lain tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Related Post / Artikel Terkait:



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Ini Bagus (Good) atau Jelek (Bad)? Please Comment here